Berita  

Geolog Ungkap Mata Air Panas Pacitan Berkaitan dengan Aktivitas Sesar Grindulu

PACITAN-Selain dikenal sebagai tujuan wisata bahari dengan 70 mil panjang pantai yang eksotis, Pacitan juga kaya akan warisan geologi. Sumber mata air panas muncul di beberapa titik. Fenomena alam itu kini menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Tercatat ada tiga titik sumber mata air panas yang kini dimanfaatkan. Titik pertama ada di desa Tinatar kecamatan Punung yang diberi nama Tirto Wiyono, titik kedua berlokasi di desa Karangrejo Kecamatan Arjosari, yang kini menjadi obyek wisata pemandian air hangat Tirto Husodo atau banyu anget. Sedangkan titik ketiga berada di desa Purworejo kecamatan Pacitan.

Sumber mata air panas kerap dijadikan sarana pengobatan penyakit kulit oleh pengunjung. Di banyu anget, wisatawan betah berendam lama untuk mendapatkan mafaat dari air panas yang mengandung belerang. Saat libur sekolah, obyek wisata Banyu Anget ramai di padati wisatawan dan biasanya menjadi tujuan akhir wisata selepas mengunjungi berbagai destinasi bahari, goa dan wisata kuliner di Pacitan.

Selain menghadirkan manfaat ekonomi, obyek wisata banyu anget juga menyimpan warisan geologi yang diduga berasal dari aktivitas tektonik berupa patahan (sesar) kerak bumi yang saling terhubung satu sama lain. Hal itu di ungkap oleh geolog UPN Veteran Yogyakarta, Prof Eko Teguh Paripurno saat melakukan penelitian bersama tim dilokasi. Menurutnya, ekspresi kemunculan (sumber) air panas (alami) umumnya disebabkan dua hal. Pertama karena aktivitas magma, dan kedua karena air mengalir pada zona patahan yang mengalami tekanan tertentu sehingga menghasilkan panas .

“Kalau melihat dari sisi geologi wilayah Pacitan yang tidak ada gunung api aktif, keberadaan sumber air panas di sini lebih mengarah pada faktor patahan pada lapisan kerak bumi. Bukan vulkanis,” kata pakar geologi UPN Veteran Yogyakarta itu, seperti dikutip antaranews.com.

Menurut Eko, struktur geologi yang paling berpengaruh di wilayah Pacitan adalah Sesar Grindulu. Indikasi bahwa patahan ini masih aktif terlihat dari munculnya sejumlah titik mata air hangat di beberapa lokasi. Fenomena tersebut menjadi penanda adanya pergerakan geologi yang masih berlangsung di bawah permukaan.

Ia menjelaskan, keberadaan mata air panas memperkuat dugaan bahwa aktivitas Sesar Grindulu belum sepenuhnya berhenti dan pengaruhnya menyebar melalui jalur-jalur patahan turunan di sejumlah kawasan sekitar.

Meski demikian, Eko meminta masyarakat tidak memandang keberadaan sesar aktif sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Menurutnya, kondisi alam tersebut justru menyimpan peluang yang bisa dimanfaatkan, mulai dari pengembangan destinasi wisata hingga potensi energi panas bumi dalam skala lokal.

“Keberadaan air hangat ini menjadi sinyal adanya sumber daya panas bumi yang dapat dimanfaatkan. Yang terpenting adalah memahami karakter wilayah dan menerapkan pembangunan yang selaras dengan kondisi geologi,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa masyarakat yang bermukim di sekitar zona patahan perlu membangun kesiapsiagaan dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan, sehingga aktivitas kehidupan tetap berjalan aman dan berkelanjutan.(agn)