Berita  

Kekeringan di Pacitan Meluas, 57 Desa Ajukan Dropping Air Bersih, 36.120 Jiwa Terdampak

BPBD Pacitan Melakukan Pengiriman Bantuan Air Bersih (Foto: Istimewa)

Pacitan (Beritajatim.com) – Dampak kekeringan di Kabupaten Pacitan terus meluas. Hingga awal September, sebanyak 57 desa mengajukan permohonan bantuan dropping air bersih kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan.

Berdasarkan data BPBD, kekeringan telah berdampak pada 186 dusun dan 393 RT dengan total 13.195 kepala keluarga atau sekitar 36.120 jiwa terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, mengatakan jumlah desa yang mengajukan bantuan meningkat signifikan dibandingkan awal penanganan kekeringan pada Agustus lalu. Saat itu, baru 28 desa yang mengajukan permohonan.

“Data ini masih dinamis. Ada beberapa usulan yang masih kami revisi. Ada desa yang mengajukan tanpa diketahui camat sehingga kami kembalikan. Yang usulannya sudah lengkap, langsung kami asesmen,” ujarnya Rabu (2/9/2026).

Erwin menjelaskan, tidak semua desa yang mengajukan bantuan otomatis mendapatkan droping air bersih. BPBD terlebih dahulu melakukan verifikasi administrasi dan asesmen lapangan untuk memastikan kondisi sumber air di wilayah tersebut.

Ia mencontohkan Desa Tahunan Baru, Kecamatan Tegalombo. Setelah dilakukan asesmen, desa tersebut dinilai belum membutuhkan bantuan air bersih.

“Ketika pengajuan sudah benar melalui camat dan sebagainya, baru kami asesmen,” imbuhnya.

BPBD mulai melaksanakan droping air bersih sejak 15 Agustus. Hingga kini, distribusi masih terus dilakukan ke wilayah-wilayah yang telah ditetapkan mengalami krisis air bersih.

Setiap hari, BPBD rata-rata mendistribusikan sekitar 70 rit air bersih. Intensitas pengiriman disesuaikan dengan jumlah penduduk terdampak dan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah.

“Kami tidak bisa memukul rata intensitas pengiriman. Dasarnya adalah jumlah jiwa dikalikan kebutuhan air,” jelas Erwin.

Menurutnya, kondisi kekeringan tahun ini lebih mengkhawatirkan dibanding musim kemarau sebelumnya. Sejumlah wilayah yang biasanya masih memiliki cadangan air kini mulai mengalami penurunan debit bahkan kekeringan.

BPBD mengacu pada prakiraan BMKG yang menyebut periode musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga November.

“Berdasarkan acuan kami, periode kemarau berlangsung dari Agustus sampai November,” katanya.

Tak hanya wilayah perdesaan, kekeringan kini mulai dirasakan di kawasan perkotaan Pacitan yang sebelumnya relatif aman dari krisis air. Sejumlah wilayah seperti Sidoharjo, Pojok, Pancer, Ploso, hingga beberapa titik di Desa Tanjungsari dilaporkan mengalami penurunan debit air sumur secara drastis dibanding musim kemarau sebelumnya.

BPBD mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air bersih selama musim kemarau serta segera melaporkan apabila mengalami kesulitan mendapatkan air agar dapat dilakukan penanganan sesuai prosedur. (tri)