PACITAN – Ancaman kekeringan pada musim kemarau mendorong pemerintah memperkuat infrastruktur pengairan pertanian di Kabupaten Pacitan. Sebanyak 131 kelompok tani mendapat dukungan pembangunan irigasi perpompaan dengan total anggaran sekitar Rp20 miliar.
Program tersebut menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan pasokan air selama musim kemarau.
Bantuan yang bersumber dari APBN 2026 itu dialokasikan sekitar Rp153 juta untuk masing-masing titik. Pelaksanaannya dilakukan melalui mekanisme swakelola oleh kelompok tani penerima.
Dari total 131 titik pembangunan, sebanyak 11 kelompok tani akan memanfaatkan sumber air dari sungai. Sedangkan 120 kelompok lainnya menggunakan sumber air tanah yang diperoleh melalui sumur bor.
Pembangunan irigasi tersebut tidak sebatas penyediaan pompa. Anggaran juga mencakup sejumlah fasilitas pendukung, seperti bangunan pengambilan air, instalasi listrik, rumah panel, tampungan air, serta jaringan pipa yang mengalirkan air menuju lahan pertanian.
Untuk titik yang menggunakan sumber air tanah, kedalaman sumur bor rata-rata mencapai sekitar 60 meter. Sementara pompa yang digunakan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing lokasi.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan mendorong pembangunan tersebut dapat rampung lebih cepat dari batas waktu yang ditetapkan dalam perjanjian kerja sama. Secara administratif, pengerjaan diberikan waktu hingga akhir Desember 2026.
Percepatan dinilai penting agar infrastruktur yang dibangun bisa segera dimanfaatkan ketika debit sumber air mulai menurun dan kebutuhan pengairan tanaman meningkat.
Kekeringan yang berkepanjangan berpotensi mengganggu keberlangsungan tanaman sekaligus mengurangi kesempatan petani untuk mempertahankan pola tanam. Karena itu, keberadaan irigasi perpompaan diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi risiko tersebut.
DKPP Pacitan juga terus memantau perkembangan kondisi cuaca dengan mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Langkah antisipasi dilakukan agar dampak kekeringan terhadap lahan pertanian dapat ditekan sejak awal.
Secara nasional, Kementerian Pertanian memang tengah memperkuat berbagai program penyediaan air pertanian. Selain irigasi perpompaan, pemerintah juga mengembangkan irigasi perpipaan, embung, long storage, dam parit, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, hingga optimalisasi sumber air permukaan dan air tanah.
Dengan dukungan infrastruktur tersebut, pemerintah berharap petani di Pacitan tetap memiliki akses air ketika musim kemarau berlangsung panjang. Selain menjaga tanaman yang sudah ditanam, fasilitas irigasi juga diharapkan mampu mendukung keberlanjutan kegiatan budidaya dan menjaga produktivitas pertanian daerah.












