Berita  

Di Tengah Kekhawatiran Orang Tua, Pacitan Perkuat Pendidikan Agama Anak Lewat Integrasi Madin

narasipacitan.com_Banyak orang tua di Pacitan kini tak hanya memikirkan nilai rapor anak-anak mereka. Di balik kesibukan sekolah dan derasnya arus pergaulan, ada kegelisahan yang sama: bagaimana memastikan anak tumbuh dengan akhlak yang baik, memiliki pegangan agama, dan tidak mudah tergerus pengaruh negatif lingkungan.

Kegelisahan itulah yang menjadi salah satu latar belakang lahirnya program integrasi Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan Madrasah Diniyah (Madin) di Kabupaten Pacitan. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan menyiapkan 72 SMP untuk mulai menerapkan program tersebut pada tahun 2026.Kepala Dinas Pendidikan Pacitan, Khemal Pandu Pratikna, menyampaikan bahwa persiapan program dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Satu per satu kepala SMP dipanggil bersama perwakilan Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) untuk mengikuti desk evaluasi, membahas kesiapan sekolah dalam menjalankan integrasi Madin.

Evaluasi tersebut mencakup penyesuaian jadwal belajar hingga kesiapan ustadz dan ustadzah yang akan mendampingi siswa dalam pembelajaran agama di sekolah.“Bagi kami, ini bukan sekadar program pendidikan, tetapi bentuk kepedulian terhadap masa depan anak-anak Pacitan. Orang tua menitipkan harapan besar agar anak-anaknya tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki akhlak dan pegangan hidup yang kuat,” ujar Khemal, Jumat (09/01).

Melalui integrasi Madin, siswa diharapkan mendapatkan ruang untuk belajar agama secara lebih terarah dan berkesinambungan. Nilai-nilai keislaman, adab, dan pembentukan karakter menjadi bekal penting di tengah tantangan pergaulan remaja yang semakin kompleks.Bagi banyak orang tua, kehadiran Madin di sekolah formal menjadi jawaban atas keterbatasan waktu dan kondisi. Tidak semua orang tua mampu mengantarkan anak ke Madrasah Diniyah di luar jam sekolah. Dengan integrasi ini, pendidikan agama dapat tetap berjalan tanpa menambah beban anak maupun keluarga.

“Pelaksanaannya dilakukan dengan menggandeng Madrasah Diniyah yang ada di sekitar sekolah. Tenaga pendidiknya pun berasal dari lembaga diniyah setempat, sehingga nilai-nilai yang diajarkan tetap selaras dengan lingkungan masyarakat,” jelasnya.Ke depan, Dinas Pendidikan Pacitan berencana mempertemukan pimpinan Madin, kepala sekolah, serta Ketua FKDT bersama Dinas PPKB dan PPPA serta unsur Kepolisian.

Pertemuan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran nyata tentang kondisi pergaulan anak saat ini sekaligus menguatkan peran semua pihak dalam melindungi generasi muda.“Anak-anak kita hidup di zaman yang penuh tantangan. Karena itu, pendidikan agama dan karakter harus menjadi fondasi bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat,” tegas Khemal.

Melalui program integrasi Madin ini, Pemerintah Kabupaten Pacitan berharap dapat menghadirkan ketenangan bagi para orang tua: bahwa anak-anak mereka tumbuh tidak hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan iman, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan yang akan menuntun mereka di masa depan.